ShopeeFood, Pendatang Baru di Pasar Layanan Food Delivery

Aroma persaingan segit di pasar layanan food delivery mulai terasa pasca berita ShopeeFood bakal mengaspal di Indonesia. Saat ini dikabarkan Shopee Food tengah membuka lowongan kerja untuk menjadi kurir dan nampak berhasil dalam merekrut mitra pengemudi di berbagai area operasinya di Indonesia.

 

Bila dicermati, ShopeeFood selaku pendatang baru mulai hadir meramaikan pasar food delivery di Indonesia, diawali munculnya layanan tersebut yang dapat diakses melalui platform Shopee, baik pada situs web maupun di aplikasi mobile. Memang, belum sebaik seperti layanan pesan-antar kilat ojek online GrabFood atau GoFood. Di mana, sebagian besar produk makanan/minuman yang disajikan sifatnya lebih tahan lama, seperti makanan beku, aneka kue, atau minuman kemasan. Tapi, cakupannya sudah cukup luas, yakni terdapat di berbagai provinsi di seluruh Indonesia.

 

Diperkenalkannya layanan shopee food tersebut tentu memicu banyak spekulasi di pasar kurir kuliner Indonesia. Hal ini berkaca dari layanan pesan-antar makanan yang lagi trend dan memang tengah naik daun di saat lahirnya kebijakan pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19. Di Indonesia sendiri, sangat signifikan terjadi peningkatan terhadap penggunaan jasa pesan antar makanan selama masa pandemi.

 

Kami dari blog ojek online hari ini (tripbisnis.com) menilai, di Medan sendiri ditemukan fakta, yang mana menurut beberapa driver Medan selama periode ada kebijakan himbauan #dirumahaja dan WFH aplikasi pesan-antar makanan menjadi yang banyak digunakan.

 

Menurut pengamatan Kami dari blog tripbisnis.com, ada beberapa alasan kuat yang mendorong masyarakat Indonesia untuk memesan makanan melalui aplikasi food delivery, yakni:

1) ada promo gratis ongkos kirim;

2) pengiriman makanan yang cepat;

3) penawaran diskon belanja kuliner;

4) ketersediaan dan kelengkapan item berupa menu makanan dan minuman;

5) adanya kemudahan proses pemesanan;

6) makanan cukup hygienis. Keenam hal diatas sudah cukup dijadikan gambaran global tentang kondisi pangsa pasar food delivery yang masih bisa berkembang.

 

Karena prospek di industri food delivery masih sangat cuan, tentu berkompetisi di pasar bisnis kurir dengan beberapa pendahulu masih punya peluang untuk sukses. Apalagi, sebagai raksasa digital di Asia Tenggara, Sea Limited (Sea) sebagai induk Shopee, tentu punya strategi bagus untuk mewujudkan ambisi nya masuk pada berbagai model bisnis potensial berbasis aplikasi rintisan.

 

Sebagai informasi, per Januari 2021 kapitalisasi pasar perusahaan ini telah berhasil mencapai $118,72 juta. Artinya, shopee sudah menjadi satu perusahaan teknologi paling bernilai di regional. Dan seandainya diamati lebih dalam lagi, pendekatan yang dilakukan oleh berbagai unit perusahaannya juga nampak cukup unik, hingga muncul pendapat tidak ada kata terlambat untuk menggeluti bisnis food delivery di Indonesia.

 

Kita lihat saja dari layanan online marketplace Shopee, yang mana mulai masuk ke pasar marketplace Indonesia sekitar bulan Mei 2015 lalu. Di mana saat itu segmen bisnis ini sudah cukup ramai, dengan dominasi pendahulunya seperti Lazada, Tokopedia, Bukalapak, Elevenia, Blibli, Alfacart, dan lain sebagainya. Namun, dalam 2 (dua) tahun terakhir, bila dianalisa dari volume penjualan dan transaksi, marketplace Shopee justru mampu memimpin pasar toko online di Indonesia.

 

Dengan kekuatan kapital yang besar dan jangkauan pasar yang dimiliki Sea Limited, jelas hal ini bukan kabar menyenangkan untuk para kompetitor food delivery. Di Indonesia sendiri, sejauh ini Gojek dan Grab sudah sangat dikenal sebagai penyedia layanan jasa food delivery dengan jangkauan paling luas dan mitra terbanyak.

 

Baca juga: Gojek Mengandalkan GoFood dan GoSend Hadapi PSBB di Jakarta

 

Untuk menghadapi Sea Limited sebagai satu perusahaan raksasa digital di Asia Tenggara tersebut, bahkan sebelumnya sempat beredar rumor kedua perusahaan ojek online (ojol) penganut sistem ride hailing ini pun hendak melakukan merger. Meski kabar terakhir mengatakan, founder tidak mencapai titik kesepakatan atas pembagian jumlah saham.

 

Pada waktu lain, muncul isu mengenai rencana merger antara Gojek dan Tokopedia. Platform online marketplace Tokopedia besutan William Tanuwijaya tersebut saat ini bersaing ketat dengan toko online Shopee. Munculnya rumor harus dimaknai sebagai satu peluang kolaborasi di banyak elemen, tak terkecuali dalam hal perluasan layanan food delivery yang menggabungkan mitra UKM kuliner yang dimiliki Tokopedia, sampai perluasan layanan GoPay untuk pembayaran di Tokopedia.

 

Baca juga: Isu Merger Gojek Tokopedia, Mau Jadi Bisnis Apa ?

 

Tentu, ada banyak faktor dan tangan-tangan yang bekerja, salah satu yang paling Kami ingat karena berhasil dan berani ‘bakar duit’ pada waktu yang tepat. Perusahaan shopee sangat sukses melakukan akuisisi pelanggan dengan sangat maksimal saat trend pasar belanja online sudah berhasil teredukasi oleh pemain sebelumnya. Jargon ‘gratis ongkos kirim (ongkir)’ pun kini sangat melekat di platform yang khas dan populer dengan warna oranye ini.

 

Untuk menggaet pasar, strategi sama bisa saja dilakukan untuk bersaing, dengan kondisi pasar food delivery yang sudah semakin matang dan masif di Indonesia. Tantangan bagi Shopee ke depan adalah melakukan penguatan infrastruktur yang diperlukan dengan mengeluarkan seluruh sumber daya yang sudah dimiliki saat ini. Misal secepatnya melakukan sinkron atas platform pemesanan dan pembayaran (ShopeePay), serta segera melakulan riset untuk pemenuhan fitur logistik first-mile.

 

Memang saat ini sudah ada layanan untuk last-mile, di mana marketplace shopee sudah memiliki Shopee Xpress (SPX) dan hingga kini sudah melayani sebagian pengguna di online marketplace. Jadi, seandainya pun tersiar kabar bahwa Shopee tengah gencar merekrut mitra pengemudi (driver) untuk melayani pesanan ShopeeFood adalah hal yang wajar.

 

Tak hanya rekrutmen driver saja yang gencar dilakukan, tripbisnis.com juga melihat tim pemasaran online dan offline yang ditugaskan shopee mulai giat mempromosikan layanan ShopeeFood yang nantinya dapat digunakan untuk memesan makanan favorit seperti bakso, soto, martabak, dan lainnya (terutama jenis makanan cepat saji). Hingga saat ini, perekrutan atas pendaftaran shopeefood driver masih berlangsung.

 

Baca juga: Keuntungan Cloud Kitchen Untuk Bisnis Jasa Ride Hailing

 

Strategi yang bisa dijalankan ShopeeFood untuk memenangkan pasar, adalah platform harus memiliki proposisi nilai yang kuat dalam mengakomodasi keenam kebutuhan pengguna tersebut. Strategi yang bisa dilakukan, misal melalui insiatif mengoperasikan cloud kitchen. Konsep dapur bersama ini, memungkinkan platform shopeefood bisa mengumpulkan beberapa merchant kuliner di satu tempat. Dari sisi konsumen, kehadiran cloud kitchen lebih memudahkan pemesan makanan atau minuman untuk mendapatkan opsi lebih banyak ketika ingin membeli makanan dan atau minuman dengan 1x pemesanan dan pengantaran.

 

Sementara dari sisi merchant, dengan adanya cloud kitchen ini maka platform bisa lebih bebas menentukan (berdasarkan data) mengenai produk potensial di wilayah tertentu, sehingga turut membantu para mitra kuliner untuk memastikan bisnisnya mendapatkan pasar yang relevan. Selain itu, tentu pemilik usaha kulier akan bisa lebih menghemat biaya modal dan ongkos operasional, karena hanya fokus melayani pesan-antar.

 

Prospek diatas harus jeli dilihat oleh tim ahli dan pakar pemasaran ShopeeFood sebagai penantang baru di lanskap bisnis food deivery ini. Namun, tripbisnis.com mencermati bahwa sebenarnya korporasi Shopee juga sudah melakukan beberapa aksi permulaan yang sangat agresif dan progresif terkait pasar food delivery di Indonesia. Misalnya shopee telah memberikan dukungan kepada Weyland Tech dalam peluncuran AtozGo di Jakarta, yakni ShopeePay digunakan sebagai sistem pembayaran utama. Sehingga masih terbuka lebar berbagai kemungkinan aksu sinergi yang dapat dilakukan ketika nantinya ShopeeFood benar-benar mulai dimaksimalkan untuk mengaspal di pasar kurir pesan antar makanan.

 

Baca juga: Cara Pendaftaran Vendor MaximFood dan MaximShop

 

Kajian lebih dalam, tripbisnis.com menilai adanya ‘kue besar’ di pasar food delivery pada kawasan Asia Tenggara. Di mana dari jejak digital yang ada, dari jasa antar makanan pada tahun lalu mencapai $6 miliar, bahkan lebih besar dari transportasi on-demand yang nilainya $5 miliar (turun akibat adanya pandemi Covid-19).

 

Sebenarnya di Indonesia selain Gojek, Grab, dan Shopee masih ada aplikator lain yang mencoba mengakomodasi urusan pesan antar makanan, di antaranya:

1) platform Yummy Corp yang terafiliasi dengan perusahaan kuliner Ismaya Group. Memiliki beberapa lini bisnis, salah satunya adalah YummyBox berupa layanan pemesanan katering lewat aplikasi. Ada fitur Kulina, Wakuliner, Homade berupa layanan pemesanan katering berbasis aplikasi untuk konsumen ataupun bisnis, bekerja sama dengan merchant F&B.

 

2) Gorry Holdings Startup, pengembang aplikasi wellness, yang miliki unit bisnis Gorry Gourmet untuk menyediakan jasa pemesanan makanan sehat secara online.

 

Baca juga: Cara Daftar GrabFood Kendarai Sepeda GrabWheels Driver

 

Harapan blog ojek online hari ini, semoga dengan bertambahnya pemain pendatang baru di layanan food delivery dapat memberikan alternatif jasa yang tidak dikuasai oleh aplikator yang itu saja. Dengan begitu, persaingan bisnis pesan antar makanan untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanan semakin meningkat terus agar senantiasa di pilih pengguna, mitra pengemudi dan merchant kuliner.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *