Persaingan Ojol Ride Hailing yang Menjamur Kian Memanas

Saat ini kehadiran bisnis jasa transportasi online di berbagai kabupaten/kota di Indonesia kian memanas, terutama mendapatkan konsumen. Tarif ojek online (ojol) yang diberlakukan pihak aplikator juga sangat beragam bahkan sampau ada yang mengatakan ongkos yang didapat pengemudi (driver) sangat murah dan tidak manusiawi.

 

Hampir semua warna sudah di pakai sebagai warna jaket dan atau helm (atribut) milik aplikatir ojol. Taj heran bila di jalan kita akan melihat penampilan kerumunan mitra ojek berseragam warna warni sedang berhenti di pinggir menunggu orderan customer. Pada seragam dan helm yang mereka kenakan tertulis brand perusahaan ojol.

 

Kalau ditelusuri lebih jauh, hampir setiap bulan selalu ada perusahaan ‘start up’ transportasi online baru yang launching, terutama layanannya mencakup wilayah lokal saja.

 

Kehadiran brand ojol baru ini menambah daftar jasa transportasi online di Indonesia, menemani pendahulunya.

 

Fenomena Ojol yang Menjamur

Lantas, apa sebenarnya peran transportasi online yang kian bertambah ini benar-benar memberikan kemudahan atau sebaliknya bagi masyarakat atau negara?

 

Memang, kehadiran ojek online yang semakin menjamur telah membuat senang konsumen, terutama pada hantaran non penumpang misalnya pesan antar makanan dan pengiriman paket atau barang.

 

Baca juga: Ojek Online Meks Asli Buatan Anak Makassar

 

Kok fenomenanya malah membuat senang konsumen? Ya, tentu saja karena konsumen bisa memilih yang murah dan menjadi lebih mudah mendapatkan layanan ride hailing. Selain itu, terdapat juga jaminan keselamatan dan keamanan, dan sisi kenyamanan.

 

Meski begitu, kemunculan ojek online telah mengakibatkan munculnya masalah pada layanan transportasi umum (massal) kurang maksimal di berbagai daerah, bahkan dikuatirkan banyak yang tidak beroperasi lagi.

 

Menilik eksistensi bisnis jasa transportasi online sistem ride hailing, terutama berjenis pengantaran konsumen maupun makanan mayoritas menggunakan motor (R2) dan telah membuat masyarakat jadi malas berjalan kaki. Selain itu, makin banyak motor, maka semakin boros BBM.

 

Tak dapat disangkal, tingginya animo masyarakat berkendara telah membuat layanan ojek online lainnya turut bersaing menerapkan strategi pemasaran layanannya. Apalagi konsumen akan lebih memilih pada layanan yang banyak menyediakan kemudahan dan tawaran diskon, serta perilaku driver dilapangan.

 

Baca juga: Ojek Online yang Ngaspal di Medan

 

Memang industri perojolan yang berkembang di era digital ini, menuntut adanya sikap atau perilaku yang ramah dan sopan terhadap konsumen, terutama konsumen yang bukan milenial. Artinya, layanan yang dilakukan driver dalam pekerjaannya harus dipastikan profesional dan benar membantu konsumen.

 

Meski tak jarang kita mendengar dan atau melihat angka kecelakaan ojol motor dengan hantaran dan taksi online banyak terjadi. Tapi tetap animo masyarakat menggunakan ojek online tetap cukup tinggi.

 

Benar saat ini, kemunculan ojek online lebih terlihat bagi masyarakat dan peran jasa pengantaran konvensional terus meredup. Padahal, para pengusaha dan pekerja transportasi konvensional ‘reguler’ telah berupaya mengubah penampilan dan mencoba bertahan dengan cara mengikuti perkembangan zaman. Tapi, hasilnya seperti yang kita lihat, dimana bisnis transportasi reguler sudah banyak yang tutup.

 

Padahal seharusnya antara bisnis transportasi online dengan bisnis transportasi konvensional tidak saling menjatuhkan dan dapat bergandengan memenuhi kebutuhan masyarakat akan transportasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *