Pengemudi Ojol Medan Tak Setuju Merger Gojek-Grab

Isu merger Gojek-Grab, menjadi topik bahasan hangat di kalangan pengemudi (driver) ojek online di Medan. Bahkan bila benar ada rencana manajemen perusahaan, sebagian besar para mitra Gojek dan Grab dapat dipastikan akan menolak merger tersebut.

 

Benar, wacana perusahaan transportasi berbasis aplikasi yang bisa di pesan menggunakan smartphone, yakni Grab dan Gojek akan merger tengah mencuat dikabarkan media dan juga di share ke medsos. Wajar bila para mitra pengemudi ojek online yang menjadi mitra perusahaan tersebut ramai-ramai menolak karena berkaitan dengan penghasilan mereka.

 

Hutabarat salah seorang pengemudi Grab Bike mengaku, dirinya tidak setuju dengan wacana merger antara Grab dan Gojek karena akan berdampak langsung pada nasib jutaan pengemudi ojek online dari kedua perusahaan bisnis ojol tersebut. Bila merger dilakukan, maka bila terjadi pemutusan hubungan mitra (PM) pasca terealisasi menjadi perusahaan bisnis ojek online yang baru, maka pengemudi tidak memiliki kesempatan lagi untuk bisa menjadi pengemudi di salah perusahaan tersebut.

 

‘Atau bila saat ini para pengemudi memiliki akun driver dari kedua perusahaan, maka berdampak pada salah satu akun nya pasti akan di non-aktifkan. Jelas hal ini akan membawa kerugian bagi para mitra’, kata Hutabarat.

 

Baca juga: Strategi Marketing Transportasi ‘Ojek’ Online

 

Selain Hutabarat, seorang Gojek driver marga Damanik juga pesimistis bila kebijakan merger antara Grab dan Gojek akan mampu menyelesaikan masalah-masalah pengemudi dan menciptakan kesejahteraan. Justru dirinya sangat khawatir, dominasi perusahaan hasil merger ini makin menyulitkan para pengemudi yang sudah bertahun-tahun menjadi mitra. Karena dalam praktik dan yang dirasakannya masih jauh dari perilaku kemitraan yang ideal.

 

‘Karena dipastikan akan lebih banyak aturan sepihak dari perusahaan yang mana mitra pengemudi tidak bisa melakukan pembelaan apabila terjadi pelanggaran kemitraan atau karena atas adanya komentar negatif dari customer melalui aplikasi’, ungkap Manik (5/12/2020).

 

Sementara, menurut Simbolon yang merupakan driver Grab mengatakan, apabila wacana merger ini terealisasi maka Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) harus segera turun tangan dan terlibat langsung dalam memberikan rekomendasi terhadap merger Grab-Gojek. ‘Apakah benar dapat dilakukan atau justru tidak karena menyalahi aturan atau akal-akalan semata’, jelasnya.

 

Menurut dia, hal ini dinilai sangat penting karena aksi korporasi tersebut menyangkut: 1) strategi bisnis transportasi massal berbasis digital dengan rasa kendaraan pribadi (ride hailing), 2) hubungan kemitraan antara perusahaan dan pengemudi maupun merchant, serta 3) ada tidaknya hambatan bagi pelaku usaha baru untuk masuk dan bertahan di industri ojol tersebut.

 

Baca juga: Tips Agar Akun Gojek Driver Tetap Gacor Orderan

 

Perlu diketahui, hangatnya isu merger ini di media Indonesia berawal dari adanya berita yang dimuat oleh Bloomberg (2/12/2020), bahwa Grab Holdings Inc. dan Gojek dikabarkan telah membuat kemajuan substansial dalam mencapai kesepakatan untuk menggabungkan bisnis antar keduanya. Sebagaimana dikutip oleh Bloomberg melalui sumber yang tidak bisa disebutkan namanya ada mengatakan, Grab dan Gojek telah mempersempit perbedaan pendapatnya meski negosiasi yang menjadi bagian dari perjanjian masih perlu dilakukan.

 

Masih dari berita yang dilansir Bloomberg, bahwa detail akhir merger pun sedang dibahas di antara para pemimpin senior di tiap perusahaan dengan partisipasi Masayoshi Son dari Softbank Group Corp selaku investor utama Grab.

 

Selain itu sumber dari laporan DealStreetAsia dengan mengutip sejumlah sumber yang tidak ingin disebutkan namanya, juga memberitakan bahwa kemungkinan penggabungan Grab-Gojek ini akan mencakup semua layanan Grab dan Gojek, mulai dari : 1) layanan transportasi, 2) pengiriman makan dan paket, dan 3) hingga ke pembayaran digital (GoPay dan OVO) dan layanan keuangan.

 

Petinggi Gojek-Grab Indonesia No Comment

Bila ditelaah lebih jauh, adanya strategi merger ojol decacorn Gojek dan Grab Entitas hingga munculnya strategi gabungan ini terus menghangat, karena menyangkut keberlangsungan pengemudi dan perusahan mitra merchandise. Apalagi, wacana nya sudah mengerucut akan menggunakan merek Grab di sebagian besar wilayah Asia Tenggara karena Grab memiliki operasi yang lebih luas. Yakni, Grab hadir di 8 negara Asia Tenggara sedangkan Gojek hanya ada di 5 negara.

 

Sementara, DealStreetAsia melaporkan untuk di Indonesia, bahwa bisnis Grab lebih suka memakai brand nama gabungan, sementara perusahaan Gojek lebih suka menggunakan brandnya sendiri yang sudah kuat dan mengakar di masyarakat Indonesia.

 

Masih bersumber dari DealStreetAsia, mengungkapkan bahwa Gojek sedang berusaha untuk menenangkan regulator Indonesia dengan dengan cara menghentikan, atau menghapus brand Grab di Indonesia.

 

Baca juga: Hadapi PSBB Jakarta, Gojek Andalkan GoSend dan GoFood

 

Atas adanya wacana merger ini, Chief of Corporate Affairs Gojek Nila Marita menolak untuk mengomentari isu yang beredar deras di pasar dan media sosial. Menurut dia, saat ini fundamental Gojek semakin kuat mencatatkan kontribusi margin positif termasuk di masa pandemi Covid19. Aksi no comment atas santer nya isu merger Grab-Gojek ini, juga datang dari juru bicara Grab Indonesia.

 

Jadi karena ini masih wacana, tripbisnis.com menghimbau ke para mitra Gojek-Grab (baik pengemudi maupun pelaku usaha) harus bersabar karena merger ini masih merupakan wacana yang belum tentu terealisasi. Seandai nanti benar, tripbisnis.com berharap penggabungan kedua perusahaan startup decacorn ini harus terlihat jelas dari beberapa layanan (pasca merger Grab dan Gojek) mampu mencatatkan kontribusi margin positif.

 

Selain itu, layanan perusahaan terbaru hasil merger harus memprioritaskan pertumbuhan yang berkelanjutan untuk memberikan layanan terbaik kepada pengguna dan mitra ojek online di seluruh negara tempat beroperasi, terutama di Indonesia. Karena Gojek adalah perusahaan asli karya anak bangsa yang selama ini telah berkontribusi besar mengembangkan bisnis UKM di tanah air hingga banyak pengemudi ojek online (ojol ) tidak setuju bila dilakukan merger Grab-Gojek ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *