Isu Mega Merger Gojek Tokopedia, Mau Bisnis Apa?

Santer dikabarkan Go-Jek raksasa ride hailing dan pembayaran Indonesia akan merger dengan Tokopedia raksasa e-commerce asal Indonesia. Konsolidasi start up bila terjadi, maka integrasi model bisnis keduanya akan menghasilkan suatu ekosistem digital raksasa yang bisa dibilang tak tertandingi.

 

Penggabungan dua perusahaan startup itu akan membawa valuasi menjadi start up decacorn dengan valuasi hampir US$ 18 miliar. Menggunakan asumsi kurs Rp 14.000/US$, maka nilai perusahaan rintisan tersebut setara dengan Rp 250 Triliun.

 

Sehingga, penggabungan entitas ini akan menciptakan kekuatan besar di Asia Tenggara. Gojek dan Tokopedia masing-masing akan memegang USD 10,5 miliar dan USD 7,5 miliar.

 

Kabar ini berawal adanya informasi yang bersumber dari Bloomberg News. Dimana dari sumber informasi itu, dikatakan bahwa kedua perusahaan telah menandatangani persyaratan terperinci untuk melakukan uji tuntas atas bisnis masing-masing (due diligence).

 

Sebenarnya terkait merger ini, jauh hari sebelumnya pihak manajemen Gojek dan Tokopedia telah mempertimbangkan potensi adanya merger di 2018 lalu. Kemudian di awal 2021, kembali mencuat kepermukaan dan tren dibicarakan para pengamat bisnis di tanah air dan luar negeri.

 

Sumber dimaksud juga mengatakan, mega merger ini kemungkinan diperkirakan akan berlangsung beberapa bulan ke depan. Untuk itu, diskusi dipercepat setelah sebelumnya pembicaraan kesepakatan antara Gojek dan saingan beratnya yaitu Grab Holdings Inc menemui jalan buntu. Meski kedua perusahaan bisnis ride hailing tersebut terlihat agresif mengadakan pembicaraan on-and-off untuk menggabungkan usaha setelah bertahun-tahun terjadi persaingan sengit dalam layanan transportasi online, pengiriman makanan, dan teknologi keuangan digital.

 

Baca juga: Driver Ojek Online Medan Menolak Rencana Gojek-Grab Merger

 

Wacana Gojek Grab merger terjadi Desember lalu, kedua perusahaan startup decacorn dikatakan banyak pihak telah membuat kemajuan substansial dalam kesepakatan. Namun, akhirnya masing-masing petinggi perusahaan tak sepaham dan berselisih tentang bagaimana mengelola Indonesia, pasar utama ojek online dan layanan on demand di kawasan Asia Tenggara.

 

Belajar dari kegagalan, awal tahun 2021 ini baik Gojek dan Tokopedia sedang mempertimbangkan beberapa opsi untuk melakukan penawaran umum perdana mereka. Keduanya dapat memilih Initial Public Offering (IPO) tradisional di Indonesia dan Amerika (AS).

 

‘Untuk mewujudkan IPO, opsi untuk bekerjasama dengan perusahaan blank check maraton dilakukan dalam rangka untuk persiapan pencatatan di AS’, kata sumber dari Bloomberg News itu.

 

Masih menurut sumber tersebut, sejumlah perusahaan blank check telah intensive mengadakan diskusi dengan kedua perusahaan tersebut dalam beberapa bulan terakhir menyangkut apa jadinya bisnis tersebut kedepan.

 

Sumber di Tokopedia, mengatakan bulan lalu pihaknya telah menggunakan jasa Morgan Stanley dan Citigroup Inc. sebagai penasehat untuk membantu mempercepat rencananya untuk go public, menyusul laporan bahwa Bridgetown Holdings Ltd., perusahaan blank check ini dimiliki oleh miliarder Richard Li dan Peter Thiel.

 

Baca juga: Gojek Beli Saham Bank Jago Sebesar Rp2,25 Triliun

 

Sedang untuk bursa efek Indonesia, diprediksi kapitalisasi pasarnya sudah menyamai perusahaan-perusahaan blue chip yang sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia. Serta, dibalik valuasi perusahaan yang fantastis akibat merger Tokopedia Gojek, juga akan membentuk ekosistem digital Tanah Air yang semakin matang dan terintegrasi karena kiprah keduanya berbeda market share.

 

Banyak ahli bisnis dan pasar modal mempredikso, mungkin jalan untuk merger Gojek-Tokopedia akan lebih mulus dibandingkan jika Gojek merger dengan Grab. Pasalnya, saat ini saja kedua perusahaan ojol ini sudah menjadi pemimpin pasar transportasi berbasis aplikasi.

 

Tanggapan Investor Tokopedia Atas Isu Merger Dengan Gojek

Menanggapi isu, Co-founder dan Managing Partner East Ventures (perusahaan modal ventura sekaligus salah satu investor Tokopedia), Willson Cuaca, mengatakan bahwa mega merger Gojek dan Tokopedia sangat mungkin terjadi dalam dunia bisnis.

 

‘Bisa sangat mungkin terjadi, karena sama-sama dari Indonesia dan sudah saling kenal, meski menjalankan bisnis yang berbeda pasar,’ kata Willson.

 

Masih kata Willson, gabungan kedua entitas akan menjadi super-app terbesar di Asia Tenggara. Sehingga akan lebih banyak solusi layanan yang akan bisa dihadirkan karena akan menguntungkan bagi konsumen.

 

‘End to end, dari ride, food, ecommerce, logistik, financial services, dan tidak terjadi monopoli karena setiap segmen ada kompetitornya. Hal ini akan menguntungkan konsumen,’ ucap Willson lagi.

 

Penggabungan entitas ini akan menciptakan kekuatan pasar yang besar dengan kehadiran valuasi sekira USD 18 miliar atau berkisar Rp 250 triliun. Gojek dan Tokopedia masing-masing akan memegang USD 10,5 miliar dan USD 7,5 miliar.

 

Ditempat terpisah, Usman Akhtar dari perusahaan konsultan manajemen Bain & Co menanggapi, ‘ini berpotensi besar menjadi kesepakatan blockbuster yang akan berdampak besar di luar kedua perusahaan, dan memiliki efek yang bahkan belum diketahui semuanya akan jadi jenis perusahaan apa.’

 

Kita lihat saja bagaimana kelanjutan wacana mega merger Gojek Tokopedia ini, dan selanjutnya perkembangan bisnisnya pasca merger.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *