Cloud Kitchen Solusi Tren Ride Hailing Saat Pandemi Covid19

Pandemi Covid19 menjadi satu penyebab lesunya permintaan layanan transportasi online sistem ride hailing di Indonesia untuk penumpang baik motor maupun taxi online. Hal ini secara nyata telah membuat suram penghasilan mitra driver dan rendahnya keuntungan yang diharapkan perusahaan aplikator yang main di bisnis ride hailing.

 

Banyak para pengamat perojolan Indonesia memprediksi kondisi diatas masih akan berlanjut di sepanjang 2021. Indikasi ini terlihat dari jumlah permintaan terhadap layanan antar jemput transportasi online berbasis order penumpang (ojek/ride) yang belum merangkak naik hingga 15/01. Ditambah adanya pemberlakuan PSBB Jawa Bali turut menjadi pemicu ojol penumpang terus terpuruk.

 

Mau tak mau, agar bisnis bisa bertahan maka perusahaan penyedia jasa transportasi online harus agresive berinovasi untuk menutupi penurunan pendapatan dari sektor tersebut. Pembatasan mobilitas yang diterapkan untuk mengurangi penyebaran virus masih kuat sebagai satu indikator yang akan menghambat pertumbuhan transportasi penumpang online.

 

Baca juga: Persaingan Ride Hailing di Indonesian Kian Memanas

 

Blog tripbisnis.com melihat meski program vaksinasi yang telah dicanangkan pemerintahan Presiden Jokowi terlaksana awal tahun ini, namun distribusi anti virus Covid19 membutuhkan waktu hingga kekebalan komunitas dapat terbentuk di seluruh Indonesia. Artinya, bisnis ride hailing tren pertumbuhannya masih melambat dan berimbas pada pendapatan yang rendah baik bagi pengemudi, mitra merchant dan perusahaan aplikator itu sendiri.

 

Bersandar dari data yang dirilis Google, Temasek, Bain & Company pada November 2019, pendapatan di sektor transportasi online mengalami penurunan signifikan sebesar 18 persen dibandingkan 2019. Nilainya pendapatan nya menurun dari US$ 6 miliar menjadi US$ 5 miliar.

 

Akibatnya, perusahaan decacorn transportasi online yakni Gojek dengan sangat terpaksa telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 430 karyawan nya. Perusahaan gojek juga menutup dua layanan non-inti, yakni GoLife yang menyediakan jasa pijat dan bersih-bersih, serta GoFood Festival.

 

Demikian pula dengan perusahaan ride hailing Grab juga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 360 karyawannya di Asia Tenggara. Jumlah ini setara dengan 5 persen dari total karyawan Grab.

 

Baca juga: Ojol Jawa Bali Berharap Bisa Beroperasi Meski PSBB Diperketat

 

Selain itu, perusahaan Grab telah melakukan penghetian atau penutupan sejumlah proyek atau bisnis di beberapa proyek strategis non-esensial untuk lebih mengkonsolidasikan fungsi-fungsi di perusahaan dalam rangka efisiensi yang lebih besar.

 

Terbitnya keputusan kurang populer tersebut terpaksa diambil agar korporasi Gojek dan Grab dapat tetap tumbuh akibat pandemi Covid-19. Serta dapat fokus pada inovasi, otomatisasi, dan sumber daya manusia.

 

Memang akibat pandemi Covid-19, sektor bisnis yang mengalami dampak terbesar adalah dialami layanan transportasi online. Adanya keputusan menerapkan penutupan sejumlah wilayah melalui PSBB menyebabkan mobilitas masyarakat menurun drastis. Meski, kondisinya tidak memukul seluruh layanan yang ada di transportasi online. Salah satunya adalah layanan pengiriman makanan (food delivery).

 

Layanan antar pesan makanan dan minuman ini justru terlihat mengalami peningkatan meskipun tidak cukup untuk mengimbangi kontraksi pada jasa transportasi online. Tapi memberikan harapan baru untuk dikembangkan aplikator sebelum kekebalan komunitas terhadap Covid-19 terbentuk di seluruh wilayah operasional ojol di Indonesia.

 

Kondisi order food delivery yang menunjukkan adanya peningkatan, maka ekspansi dari bisnis ride hailing lebih berpeluang tumbuh besar. Tripbisnis.com melihat terbentuknya tren bisnis kuliner dengan konsep cloud kitchen menjadi penyeimbang order di transportasi online.

 

Restoran dengan konsep cloud kitchen tidak melayani makan atau minum di tempat dan hanya menawarkan fasilitas pengiriman makanan. Tak ayal, hari ke hari restoran konsep ini terus bertambah jumlahnya yang dimotori oleh UKM dan UMKM.

 

Baca juga: Go-Food dan Go-Send Andalan Gojek Saat PSBB DKI Jakarta

 

Selain itu, prospek bisnis transportasi online masih bagus terbukti dari adanya peningkatan penggunaan layanan pembayaran digital (e-money atau e-wallet) dan pengiriman barang atau dokumen (jasa kurir sameday) juga akan berkembang mengingat tingginya transaksi belanja digital.

 

Secara faktual, pandemi Covid-19 dan penerapan pembatasan sosial skala besar selama pandemi telah membuat transportasi penumpang menurun drastis. Tapi semua itu dikompensasi dengan layanan lain, yang nyata mengalami peningkatan order. Bahkan tripbisnis.com mencermati layanan pengiriman makanan dan belanja mampu meningkat hingga lebih dari 100 persen, seperti yang dialami duo decacorn ride hailing yakni Gojek dan Grab.

 

Melihat potensi tersebut, masing-masing perusahaan ojek online akan berlomba-lomba menyisir pelanggan yang menggunakan layanan untuk berbelanja kebutuhan dan beli makanan tanpa harus keluar rumah. Artinya marketshare transportasi online ada di layanan berbelanja yang berlaku di toko mitra merchant tertentu, layanan berbelanja di toko manapun asalkan alamat toko dan nomor narahubung tercantum jelas, serta di mitra merchant kuliner (food).

 

Baca juga: Harapan Driver Ojek Online Medan di 2021

 

Meski akibat pandemi Covid19 bikin pendapatan mitra driver online terjadi penurunan karena volume transportasi online mengangkut penumpang cukup terpukul, mitra driver sangat terbantu dari peningkatan layanan pengirimann makanan dan belanja. Untuk itu, sangat penting ekosistem merchant kuliner melalui konsep tren cloud kitchen (GoFood dan GrabFood) di ride hailing market terus dikembangkan untuk mendongkrak orderan di 2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *