Bahaya Jual Beli Akun Driver Ojek Online

Profesi pengemudi (driver) ojek online (ojol) saat ini telah dimaknai sebagai satu pekerjaan menjanjikan, meski tinggi resiko (di begal, kena modus penipuan orderan, kecelakaan lalu lintas, dll). Bahkan, jenis pekerjaan ini sempat jadi berita tranding, karena driver ojol mampu meraup penghasilan hingga belasan juta rupiah per bulan. Tentu saja, jumlah penghasilan ini jauh lebih besar bila dibandingkan dengan rata-rata gaji PNS, pegawai kantor swasta atau upah pekerja/buruh di Indonesia.

 

Tak heran atas adanya informasi pendapatan seorang driver ojek online, menciptakan minat masyarakat untuk bergabung di loker ojek driver hingga aktivitas jual beli akun driver pun meningkat. Terlihat dari pelaku penjual akun yang terus menawarkannya di berbagai platform media sosial dan website/blog. Demikian juga orang-orang yang membutuhkan akun.

 

Sebenar nya kegiatan jual beli akun ojol driver adalah ilegal, namun fakta transaksi jual beli nya tetap ada dan tanpa mengindahkan resiko yang bisa muncul dari aktivitas jual beli akun ojek online driver tersebut.

 

Pertanyaannya, kenapa banyak orang yang melakukan jual-beli akun ojol? Sebabnya sebagai berikut :

 

*) Permintaan Pasar

Tingginya peminat sebagai ojol driver, membuat aplikator (Grab, Gojek, Maxim, Okejek dan inDriver) melakukan seleksi ketat dengan cara menetapkan beberapa persyaratan yang wajib dipenuhi calon pelamar driver, seperti SIM dan SKCK.

 

Baca juga: Cara Pendaftaran Mitra Oke Driver dan OkeFood Okejek

 

Sebenarnya seleksi ketat dimaksud untuk memproteksi si driver dan konsumen, serta menjaga penghasilan minimum yang diperoleh si driver setiap harinya. Mengapa? Karena jumlah driver aktif berbanding lurus dengan jumlah orderan pelanggan. Namun, proses itu justru dianggap beberapa orang menjadi sangat merepotkan.

 

Hal itulah yang akhirnya memicu calon pengemudi ojol memilih cara instan untuk membeli akun seorang driver tanpa memahami atas tingginya resiko/bahaya jual beli akun.

 

*) Ingin Instan

Untuk menjadi calon pengemudi ojek online, haruslah melakukan pendaftaran dengan terlebih dahulu melengkapi seluruh persyaratan yang ditetapkan oleh perusahaan aplikator. Salah satu yang paling mudah adalah mekanisme pendaftaran driver yang dilakukan secara online.

 

Saat daftar online, peminat nanti akan disuruh mengisi formulir pendaftaran di website resmi perusahaan ojol dan sekaligus mengunggah beberapa berkas dokumen penunjang, misal KTP, SIM, STNK dan foto selfie si driver.

 

Setelah itu, aplikator (Grab, Maxim, Okejek, inDriver atau Gojek) akan menghubungi pelamar yang sudah sesuai dengan ketentuan untuk datang ke kantor cabang atau area operasional ojol terdekat.

 

Belum selesai disitu, nanti calon pengemudi akan menjalani interview dan serangkaian tes keamanan mengemudi di jalan raya. Barulah jika lulus tes, akan diberi akun beserta helm dan jaket resmi untuk menjalankan orderan. Atas adanya prosedur yang bertahap ini justru dianggap beberapa orang adalah proses pendaftaran ribet dan bertele-tele. Akhirnya mengindahkan adanya resiko jual beli akun, dan para akun pengemudi yang aktif karena alasan tertentu menjual akun driver ojol nya.

 

Pada saat ada penambahan driver, calon driver yang sudah daftar via online, banyak yang menelan pil pahit karena tidak dipanggil / diundang. Selain itu, pada saat ada penambahan driver di perusahaan duo decacorn, yaitu Grab dan Gojek lebih memilih pendaftar offline daripada pendaftar online meski berkas sudah lengkap dan daftarnya lebih dulu.

 

*) Syarat Berkas Dokumen Tidak Lengkap

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada beberapa berkas dokumen yang wajib dipenuhi calon pengemudi, sebut saja seperti KTP, STNK, KK, SIM A/C/B hingga SKCK yang semuanya harus masih aktif.

 

Ingat, tidak semua orang bisa memenuhi syarat kelengkapan dokumen itu karena berbagai alasan. Misalkan saja domisili tidak sama, KTP/SIM yang hilang hingga tak ada waktu mengurus SKCK dan sebagainya.

 

Baca juga: Cara Mendaftar Maxim Driver

 

Kalau sudah begitu, satu-satunya langkah tercepat yakni dengan membeli akun Gojek, inDriver, Grab, Maxim dan OkeJack milik driver ojol yang kurang aktif ngebid. Seakan tak peduli pada resiko jual beli akun driver, bagi para pembeli akun ini yang penting bisa menjadi ojol secara cepat. Sehingga ketika akun sudah di tangan, tentu akan bisa langsung menerima orderan dan mengaspal di jalan demi memperoleh penghasilan menggiurkan.

 

*) Ingin Lebih Cepat

Prosedur menjadi calon pengemudi di perusahaan ojek online tidak bisa dilakukan secara cepat atau instan. Aplikator harus memverifikasi berkas syarat pendaftar sekaligus mengantre dengan calon driver lain yang lebih dulu. Hal ini jelas membuat keinginan mencari orderan tak bisa dilakukan sebelum resmi punya akun. Tak heran mereka yang ogah menunggu lama, memilih lebih baik beli akun driver saja.

 

*) Akun Nganggur

Inilah yang juga memicu tingginya aksi jual-beli akun. Tak dipungkiri, saat ini ada banyak ojol yang akunnya menganggur karena mungkin telah bekerja di bidang lain hingga bosan. Alasan ini yang membuat mereka tidak bisa lagi menjalani profesi sebagai mitra driver pada perusahaan aplikator transportasi online.

 

Daripada tidak terpakai, akun-akun nganggur itu pun dijual tanpa menyadari betapa beratnya sanksi jual beli akun yang ditetapkan perusahaan.

 

*) Tingkatkan Penghasilan

Sudah jadi rahasia umum dimana seorang driver di GO-JEK ternyata juga memiliki akun Grab, Maxim, inDriver dan Okjek. Aksi yang sebetulnya dilarang oleh perusahaan ini terpaksa dilakukan demi meningkatkan penghasilan. Tanpa mempedulikan bahaya jual beli akun pengemudi, mereka memilih jalur singkat demi mempunyai lebih dari akun pada perusahaan transportasi online berbeda.

 

Dengan memiliki banyak akun ojol dari perusahaan berbeda, pelaku bisa menjalankan kegiatan GO-SEND misalnya sambil melakukan orderan GrabBike. Atau mungkin sama-sama menerima order pesan antar makanan OkeFood dan GO-Food di waktu bersamaan. Bahaya? Sudah pasti, tapi atas nama penghasilan semua ditempuh tanpa mempedulikan resiko jual beli akun yang bisa mengantarkan nya berurusan dengan pihak kepolisian.

 

*) Tuntutan Mencari Nafkah

Tuntutan hidup untuk menafkahi anak dan istri menjadi satu alasan kuat bagi orang yang tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan. Selain itu, kondisi istri tidak bekerja membuat banyak orang memilih jadi driver ojol sebagai pekerjaan tambahan untuk dapat penghasilan tambahan dalam rangka menutupi besarnya pengeluaran keluarga.

 

Alasan dan Dasar Jual Beli Akun Merupakan Pelanggaran

Perbuatan jual beli akun driver yang mungkin dianggap sepele justru sebenarnya diperhatikan sangat serius oleh aplikator. Nah, supaya tidak salah kaprah, inilah beberapa daftar sanksi yang mengancam para pelaku penjual akun versi blog tripbisnis.com :

 

1) Ancaman Penipuan

Resiko jual beli akun ojol yang pertama adalah bisa menjadi korban penipuan. Ada beberapa kejadian dimana oknum ojol yang menjual akun secara cepat dengan harga murah, tapi ternyata saat diselidiki akun itu sudah di-suspend atau bermasalah. Anda sebagai pembeli jelas rugi, karena akun yang sudah dibayar itu tidak bisa digunakan karena untuk membuka suspend butuh identitas asli si pemilik akun.

 

2) Tak Ada Asuransi

Demi melindungi seluruh mitra pengemudi, perusahaan bisnis transportasi online memberikan asuransi selama menjalankan orderan, tepatnya di jalan raya. Hanya saja penerima manfaat asuransi itu adalah orang yang identitasnya terdaftar resmi dalam akun driver. Sehingga kalau Anda membeli akun milik orang lain, yang bisa klaim asuransi adalah si pemilik akun asli, bukannya Anda.

 

3) Ancaman Hukum Dari Perusahaan Aplikator

Tak main-main, sanksi jual beli akun diatur secara khusus dalam kode etik pengemudi dari perusahaan ojek online Indonesia. Dalam website resmi mereka, aksi jual beli akun masuk dalam kategori kecurangan dengan sanksi dikeluarkan atas putus mitra. Tanpa adanya SMS peringatan atau pembekuan akun alias suspend, mereka pelaku penjual-beli akun langsung dipecat sebagai mitra pengemudi Gojek, Maxim, Okejek, Grab dan inDriver.

 

Ketika seorang mitra ojol dihentikan secara tidak hormat sebagai driver, seluruh insentif dan penghasilan yang belum diambil tak akan bisa dicairkan dan jenis hukuman sangat berat, bukan?

 

4) Pesanan Sering Dibatalkan Konsumen

Setiap konsumen ojek online tentu akan mengutamakan keselamatan mereka. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menyesuaikan identitas pengemudi termasuk nomor plat kendaraan yang sesuai di aplikasi. Jika ada driver yang identitas dan nomor plat kendaraan tidak sesuai, bisa saja orderan itu langsung dibatalkan karena konsumen merasa cemas dengan akun bodong tersebut.

 

Hal ini kerap terjadi saat driver menggunakan akun milik orang lain, karena identitas akun dalam aplikasi termasuk nomor plat kendaraan berbeda. Semakin merepotkan jika ternyata si penjual akun tidak menyertakan nomor ponsel terdaftar, sehingga konsumen tak bisa menelepon Anda. Merugikan? Tak heran kalau jual beli akun dianggap pelanggaran dan ada banyak bahaya.

 

5) Proses Sulit Saat di-Suspend

Ada kalanya perusahaan aplikator transportasi online melakukan pembekuan akun alias suspend karena terindikasi melakukan pelanggaran ringan hingga kecurangan. Misalkan saja sering membatalkan orderan hingga dianggap konsumen tidak sopan sehingga di laporkan via call center. Akun-akun yang di-suspend itu jelas harus diurus langsung oleh pemilik identitas asli ke kantor cabang atau area operasional pemasaran terdekat jika ingin bisa menerima orderan lagi.

 

Disinilah letak bahaya jual beli akun ojol driver, karena kalau akun yang di beli mendadak dibekukan, maka Anda pun tak akan bisa mengurusnya. Selain identitas berbeda, aplikator akan mengindikasikan kecurangan sehingga resiko nya jelas langsung dikeluarkan.

 

6) Disalahgunakan

Salah satu resiko jual beli akun yang cukup berbahaya adalah disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Misalkan saja, akun Grab driver Anda dijual ke pihak lain, dan si pembeli mendapat orderan GrabExpress yang ternyata berisi barang berharga misalkan saja laptop branded. Nah, karena bukan merupakan akun Grab asli, driver tersebut membawa kabur laptop mahal tersebut.

 

Baca juga: Pengemudi Ojol Medan Tidak Setuju Gojek-Grab Merger

 

Tentu saja konsumen akan rugi dan akan segera melaporkan driver pencuri itu ke kepolisian berdasarkan data yang ada di aplikasi Grab. Tapi sialnya itu adalah akun nama Anda. Alhasil yang bermasalah jelas Anda dan harus berurusan dengan pihak Grab serta pihak kepolisian. Sementara si pembeli akun, bebas kabur dan menghapus jejak begitu saja.

 

Jadi, resiko jual beli akun driver sangatlah tinggi. Nah, supaya tidak merugi dan bermasalah, ada baiknya untuk mengurus kepemilikan akun driver secara resmi agar lebih tenang. Selain itu, memiliki akun sendiri jauh lebih bangga sehingga makin semangat mencari orderan dari pada pakai akun bodong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *